Seandainya
- Widya Sylvana Putri
- 25 Okt 2025
- 1 menit membaca
Diperbarui: 10 Agu
Aku terduduk lemas mendengar kabarmu yang didorong dari gedung sekolah. Hanya satu kata yang terus terngiang di dalam kepalaku. "Kenapa?". Kenapa kamu bertingkah seakan-akan semua baik-baik saja selama ini? Aku benci memandang senyumanmu yan terlihat sangat tulus. Meskipun aku sering membentakmu, menyalahkanmu, kamu selalu menanggapinya dengan positif. Kenapa?. Aku tidak pernah bersikap baik padamu. Aku tidak pernah tersenyum padamu, bahkan melirikmu pun aku tidak sudi. Dan itu semua disebabkan rasa iriku terhadap kasih sayang ibu padamu. Ibu hanya memperhatikanmu, menganggap aku tidak ada walaupun aku juga tumbuh di dalam rahimnya sepertimu. Rasa iriku membuatku buta akan fakta bahwa kamu juga mendapatkan perlakuan yang tidak adil. Bukan di rumah, melainkan di sekolah. Aku gagal menjadi sosok yang dapat kamu andalkan sebagai seorang kakak, dan aku menyesalinya. Banyak skenario "seandainya" yang melintasi pikiranku hingga saat ini. Kesalahan remeh ini tanpa kusangka berakhir dengan tragis. Apakah kamu bisa memaafkanku?
Ditulis oleh Shakira Kafka Nafisa
Komentar