top of page

Widya's Journal

Kisah Penulis

"Saya tak lagi memohon jalan yang rata. Saya hanya meminta langkah yang lebih kuat untuk menaklukkan setiap pendakian."

Suatu ketika, gadis yang sulit diatur berlarian sesuka hati, bermain tak kenal waktu, membangkang sekena hatinya. Semua itu tak luput dari pengawasan orang-orang dewasa di sekitarnya. Gadis yang tak pernah tahu akan menjadi apa di masa depan, hidup dalam kebahagiaan, bersama orang-orang yang menyayanginya. Dia menjadi dirinya sendiri--belajar, bermain, bercerita, bernyanyi--di waktu yang tak sebentar. Dalam rindangnya hutan, daun-daun mulai berguguran, bunga yang kembali bermekaran, buah bermusim yang tumbuh sampai jatuh ke tanah, semuanya berlalu tanpa ada yang tahu bahwa ia sudah tak lama lagi. Tak lama lagi memasuki detik-detik pilihan dan cobaan mulai menguji. Usianya belia, pikirannya masih sempit, akalnya masih pendek, ucapannya masih ragu untuk memulai kepastian jalannya akan dibawa ke mana.

 

Keluarganya tak menuntut, mereka tak jauh darinya, melihatnya dari belakang, selalu siap sedia ketika si gadis merasa harus mundur, selalu siap menampung duka dan keluhannya setiap ia rasanya ingin menyerah. Mereka menjadi segala kekuatan untuknya kembali menemukan arti hidup, memulai kembali dari peristirahatan terakhir, bangun dari tidur panjang dengan jutaan mimpi yang menakutkan, dan menyusun kembali kolase acak yang hampir sempurna ketika ia kehilangan satu keping sebagai penentu keberhasilannya. Si gadis melakban tubuhnya sendiri, mengikatnya dengan tali yang sangat kuat, kembali mencari jati diri sesungguhnya. Kepiawaiannya dalam memalsukan diri tak selalu berhasil, hingga ia memoles wajahnya dengan tanah liat yang keras. Keras sekali bahkan ketika mengenai matahari yang menyengat. Raga-raga yang bergerak kaku, jiwa yang semakin luruh, kehangatan itu semakin jauh dan sangat dalam, dan kekuatan itu membentengi raga luarnya yang semakin hari semakin membeku. Tak ada rasa, tak ada kebencian, tak ada kebahagiaan, semuanya begitu tenang dan syahdu.

 

Hingga tiba waktunya si gadis dengan tanah liat yang masih terpoles di luar tubuhnya berjalan menuju perjalanan dengan banyak sekali batu terjal yang curam. Di sana tak ada yang membantunya melindungi dari kerasnya benturan, tubuhnya tergores dengan perubahan cuaca yang tak menentu. Hujan, panas, begitu saja seterusnya berulang-ulang hingga tembok yang ia bangun dengan tebal dan kuat mulai retak di sebagian kecil. Kecil, sedikit, dan semakin banyak. Membentuk pola yang tak bisa bertahan. Kehangatan dalam jiwa yang begitu jauh, sekarang semakin mendekat, hampir keluar lewat celah-celah retakan yang tak kunjung dipoles kembali. Karena si gadis tak mengerti cara memoles dirinya dengan tangannya sendiri. Lalu, dalam perjalanan panjang nan melelahkan, ia menemukan orang lain dengan tujuan yang sama. Arahnya tak sama, mereka sangat jauh berbeda, bersebarangan dari pusaran belokan paling tak dikenali akhirnya dipertemukan dengan harapan kecil padanya. Si gadis tak tahu caranya meminta bantuan, meminta untuk memoleskan kembali tanah liat yang retak. Namun, tanah liat tak kunjung dijumpai, dan harus kembali ke tempat asal yang sangat jauh, akhirnya tembok itu terpaksa dihancurkan. Sangat pelan, karena begitu sakit menempel dengan sangat kuat. Kepingan-kepingan itu perlahan jatuh dan ditinggal di dalam setiap perjalanan mereka. Mereka hampir sampai, hingga suatu ketika si gadis menemui malapetaka yang tak bosan menghancurkannya perlahan. Temboknya sudah hancur, tak ada lagi pertahanan yang selama ini ia buat, ia jatuh bersimbah penyesalan yang tak berujung. Namun, orang lain itu harus menggapai tujuannya hingga terpaksa meninggalkannya sendiri. 

 

Si gadis terluka, terdiam, tak ada lagi orang lain, ia benar-benar tak bisa bertahan dalam hidup dengan sakit yang begitu mendalam. Ketika cahaya hampir tak menemuinya, tiba-tiba segerombolan orang datang menemuinya dengan keadaan mengenaskan di balik bebatuan yang hampir menutupi sepenuhnya. Mereka mengangkutnya dengan tujuan yang sangat jauh berbeda dari yang diinginkan si gadis. Sesampainya di tempat tujuan, si gadis disembuhkan, dijaga sepenuh hati, dibiarkan beristirahat dalam jangka waktu yang cukup lama. Di sana ia tak merasa benar-benar bahagia, ia tak benar-benar dalam ketenangan yang menyembuhkan. Namun, rasa tekad dan ambisi yang begitu kuat, ia memutuskan melanjutkan perjalanannya kembali seorang diri, tanpa ada yang menuntunnya.

 

Begitulah lika-liku perjalanan yang saya alami. Terlihat rumit, tetapi sebenarnya memiliki makna mendalam yang membuat saya bisa sampai di tempat ini. Atas dukungan mereka, orang tua (ibu, ayah), kakak perempuan saya, teman-teman selama masa sekolah, teman-teman ketika saya berada di pondok pesantren, dan orang-orang yang berperan penting dalam hidup saya. Yang membuat cerita dan diceritakan dengan sangat baik. Saya begitu beruntung memiliki mereka hingga sampai saat ini. Mereka yang saya sebutkan memanglah tak banyak, terbilang sedikit, tetapi merekalah yang menguatkan jatuh bangunnya saya dalam perjalanan curam berbatu itu. Mereka adalah orang-orang pilihan dalam hidup saya, hingga Tuhan ingin menguji sejauh mana saya bertahan dalam ujian yang diberikannya. Saya tak pernah berhenti bersyukur atas hidup yang saya jalani, bahkan jika itu adalah cobaan terberat yang merugikan, saya melihat dari sisi terbaik yang akan saya dapatkan setelahnya. Saya percaya bahwa setelah hujan akan ada pelangi, jikapun bukan pelangi yang muncul, maka mentarilah yang akan menggantikannya. Dan mentari tak kalah indah dari pelangi yang menyinari setiap sudut dunia.


 

tertanda,

Widya Sylvana Putri

bottom of page